Powered By Blogger

Saturday, May 8, 2021

 

HIJAZ YAMANI:

BAPAK PENYAIR KALIMANTAN SELATAN

Oleh : Jamal T. Suryanata

 

/ 1 /

Pertama-tama harus saya sampaikan bahwa pokok masalah yang akan saya kemukakan dalam kesempatan ini mungkin sedikit menyimpang dari topik yang diminta oleh panitia, yaitu mengulas karya-karya puisi Hijaz Yamani yang bermuatan religius. Penyimpangan ini sengaja saya lakukan untuk memberikan nuansa lain agar perbincangan kita menjadi lebih berwarna dan tidak mengerucut ke satu perspektif saja.

Selain itu, saya juga sengaja menggunakan judul di atas karena seputar pokok masalah itulah yang ingin saya sampaikan dalam perbincangan singkat ini. Namun, dengan judul tersebut tentu bukan maksud saya untuk secara latah melontarkan gagasan tentang perlunya kita (baca: para penyair Kalsel) memiliki satu hari puisi tersendiri, lalu secara beramai-ramai mendeklarasikan lahirnya Hari Puisi Kalimantan Selatan, misalnya, sebagaimana halnya kehadiran Hari Puisi Indonesia (HPI) yang ditetapkan berdasarkan hari kelahiran Chairil Anwar sebagai wujud kecintaan dan penghargaan atas segala dedikasi, totalitas, dan kepeloporannya dalam perkembangan bahasa dan sastra Indonesia, khasnya dalam bidang perpuisian.

Akan tetapi, tanpa harus heboh mendeklarasikan hari peringatan tertentu, mengenang kepeloporan dan menghargai jasa-jasa seseorang yang dinilai telah berkontribusi besar dalam bidang tertentu adalah hal yang wajar dan sewajarnya. Namun, dalam hal ini tentu dibutuhkan komitmen kita bersama.

 

/ 2 /

Dalam buku bertajuk Sketsa Sastrawan Kalimantan Selatan (2001), Jarkasi dan Tajuddin Noor Ganie mencatat bahwa Haji Hijaz Yamani (selanjutnya saya sebut Hijaz Yamani saja) termasuk sastrawan Kalimantan Selatan (Kalsel) generasi penerus zaman Orde Lama 1950-1959. Hijaz Yamani dilahirkan di Banjarmasin pada 23 Maret 1933 dan meninggal di Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin dalam usia 68 tahun, tepatnya pada hari Senin, 17 Desember 2001 (bertepatan pada hari kedua Idul Fitri, 2 Syawal 1422 H).

Menurut catatan Micky Hidayat dalam Leksikon Penyair Kalimantan Selatan (2020), Hijaz Yamani sudah mulai menulis puisi sejak tahun 1954 dan terus berkarya hingga akhir hayatnya, sekalipun tidak lagi seproduktif pada masa-masa awal kepenyairannya. Kecuali genre puisi, ia juga menulis cerpen, kritik dan esai sastra, naskah drama, serta artikel seni budaya atau dengan beragam topik lainnya. Sejak awal 1950-an, karya-karyanya telah menghiasi banyak media cetak nasional maupun regional bergensi yang juga menjadi media publikasi karya-karya sastrawan terkemuka Indonesia lainnya pada masa itu—semisal: Budaja, Roman, Konfrontasi, Tjerita, Siasat, Mimbar Indonesia, Budaja Djaja, Horison, Bahana (Brunei Darussalam), dan beberapa media lainnya. Selain itu, ia pun sering terlibat aktif dalam berbagai even sastra-budaya berskala nasional dan regional, baik diundang sebagai peserta maupun narasumber.

Karya-karya puisi Hijaz Yamani juga dimuat dalam sejumlah buku antologi puisi bersama, baik dengan penerbitan berskala lokal, nasional, maupun internasional. Namun, dari dua puluhan lebih antologi puisi bersama yang memuat sajak-sajaknya, agaknya buku bertajuk Tanah Huma (1978) yang ditulisnya bersama D. Zauhiddie dan Yustan Aziddin merupakan karya yang paling fenomenal pada masanya. Sebab, pada masa itu tidak mudah bagi seorang sastrawan (penyair) untuk menerbitkan sebuah buku, apalagi diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya—sebuah penerbit besar yang sejak tahun 1960-an sangat berpengaruh dalam perkembangan sastra di tanah air.

Di samping Balai Pustaka, dari rahim penerbit inilah bermunculan karya-karya terbaik para sastrawan tersohor Indonesia yang hingga sekarang buku-buku mereka masih dipandang berwibawa. Dan, secara tidak langsung, penerbit ini pula yang telah berjasa besar mengangkat popularitas sederet sastrawan terkemuka Indonesia—semisal: Ajip Rosidi, Aoh K. Hadimadja, Hartojo Andangdjaja, Ramadan K.H., Wing Kardjo, Toto Sudarto Bachtiar, Subagio Sastrowardojo, W.S. Rendra, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, Toeti Heraty, dan sederet nama lainnya.

Dalam konteks kesusastraan di Kalimantan, kedudukan Tanah Huma serupa dengan kehadiran Tiga Menguak Takdir (1950) yang ditulis oleh Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani. Sungguhpun tidak membawa pengaruh besar terhadap perkembangan estetika perpuisian di Indonesia, tetapi kelahiran Tanah Huma telah menguak kesunyian suara sastrawan dari tanah Kalimantan yang mampu menyeruak ke tengah-tengah gelanggang sastra nasional. Setidaknya, ia hadir sebagai penanda bahwa penyair Kalimantan itu ada dan berhak diakui sebagai anak sah dalam keluarga besar sastra Indonesia.

Buku kecil ini hanya berisi 45 puisi, dengan perincian: 15 puisi karya D. Zauhiddie, 15 puisi Yustan Aziddin, dan 15 puisi Hijaz Yamani. Karya-karya Hijaz Yamani sendiri yang dimuat dalam buku ini agaknya mewakili sajak-sajak lainnya yang ditulisnya dalam kisaran waktu 1957-1975, bahkan boleh jadi merepresentasikan estetika perpuisiannya sepanjang dasawarsa 1950-an hingga 1970-an. Ditilik dari sudut faset tematisnya, kelima belas sajak Hijaz Yamani yang dimuat dalam buku ini mengangkat tema yang relatif beragam. Akan tetapi, secara umum, kelima belas sajak ini secara sublim merefleksikan perjalanan hidup sang penyair sendiri dan sekaligus merupakan tanggapan kritisnya yang samar terhadap lingkungan sosiokulturalnya.

Sayangnya, meskipun Hijaz Yamani sudah menulis puisi sejak awal 1950-an, tetapi hingga pertengahan 1990-an ia tidak berkesempatan untuk menerbitkan karya-karya puisi yang pernah ditulisnya dalam kurun waktu yang cukup lama itu (lebih 40 tahunan, 1954-1996), dalam sebuah antologi puisi tunggal. Sejauh yang saya ketahui, buku puisi tunggalnya yang pertama baru terbit menjelang akhir dekade 90-an dengan judul Percakapan Malam (1997). Inilah satu-satunya kumpulan puisi tunggalnya yang berhasil diterbitkan dalam bentuk buku selama masa kepenyairannya yang cukup panjang itu. Bahkan, buku ini pun hanya memuat 54 puisi pilihannya yang ditulis sepanjang kurun waktu 1970-1995. Jadi, dan saya sangat meyakini, tentu masih ada sejumlah karya puisi Hijaz Yamani lainnya yang belum disertakan dalam buku ini, demikian pula dalam Tanah Huma maupun puluhan antologi puisi bersama lainnya. Pertanyaannya, apakah Hijaz Yamani memang tergolong penyair yang kurang produktif ataukah karena sajak-sajaknya yang lain itu tidak terdokumentasikan dengan baik?

Sementara itu, Malam Hujan (2012), buku kumpulan puisi tunggalnya yang kedua ini baru diterbitkan sekitar 11 tahun sepeninggalnya. Buku ini memuat 129 puisi yang ditulis Hijaz Yamani sejak tahun 1950-an hingga akhir 1990-an. Kumpulan puisi ini terbagi dalam tiga bagian: Di Bawah Lampu Mercuri (35 puisi), Kalau Kau Datang (46 puisi), dan Lanskap Sungai (48 puisi)—sebagian di antaranya juga termasuk karya-karya puisinya yang sudah diterbitkan dalam Tanah Huma dan Percakapan Malam. Dengan demikian, oleh editornya (Micky Hidayat), sangat mungkin buku ini dimaksudkan sebagai koleksi lengkap puisi Hijaz Yamani sepanjang masa kepenyairannya (1954-2000). Dan, sebagai sebuah koleksi lengkap, tentu saja sajak-sajaknya yang terhimpun dalam buku ini menunjukkan faset tematis yang sangat beragam.

Namun, sekali lagi dapat saya katakan, secara umum persoalan yang mengemuka dalam seluruh puisi yang pernah ditulis Hijaz Yamani tidak jauh beranjak dari dua tema besarnya: refleksi kehidupan personal dan tanggapan kritisnya terhadap lingkungan sosiokulturalnya. Akan tetapi, jika ingin kita rincikan lagi, dalam semua sajaknya pastilah akan menyuarakan berbagai persoalan hidup manusia secara universal: cinta, kerinduan, kegelisahan, kecemasan, kedamaian, persahabatan, religiusitas, dan beragam bentuk kritik sosial yang umumnya diungkapkan secara sublim dengan diksi-diksi dan metafor-metafornya yang lembut bersahaja. Barangkali, karakteristik estetika perpuisiannya yang lembut bersahaja ini memang tidak lepas dari sosok pribadi sang penyair sendiri.

 

/ 3 /

Selanjutnya, satu hal penting yang perlu kita catat dalam perjalanan hidup dan karier kepenyairan Hijaz Yamani adalah dedikasi, totalitas, dan kontinuitasnya dalam mengasuh sebuah acara siaran radio mingguan bercorak sastra-budaya (lebih tepatnya: apresiasi puisi) bernama “Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni” di RRI Nusantara III Banjarmasin (selanjutnya saya sebut “Untaian Mutiara” saja).

Dalam kaitan ini, jika yang dimaksudkan Micky Hidayat dalam catatannya di buku Leksikon Penyair Kalimantan Selatan bahwa sejak 1955-1961 dan 1970 hingga wafatnya (2001) itu menunjukkan masa keterlibatan Hijaz Yamani dalam mengasuh acara tersebut, berarti masa pengabdian dan perjuangannya untuk menyemai bakat-bakat kepenyairan serta menumbuhsuburkan tradisi penulisan puisi di tanah Kalimantan ini tidak kurang dari 40 tahunan—satu kurun waktu yang sangat panjang untuk ukuran sebuah mata acara (siaran radio) kesastraan dengan pendanaan yang seadanya (sekadar catatan: honor pengasuh acara ini untuk sekali siaran mungkin hanya cukup untuk sekadar ngopi bareng dengan para pembaca puisi di warung kopi pinggiran jalan).

Padahal, untuk dapat menjaga konsistensi dan kontinuitas siaran radio bertajuk Untaian Mutiara ini hingga mampu bertahan selama 40 tahunan niscaya diperlukan keuletan, kesabaran, serta perjuangan dan pengorbanan yang besar dari sang pengasuhnya. Sebab, setiap minggu sebelum siaran berlangsung, Hijaz Yamani mesti dengan telaten membaca dan menyeleksi puluhan atau mungkin ratusan karya puisi yang masuk ke meja sang pengasuh. Selain itu, setiap minggu pula ia dengan telaten harus menyiapkan naskah sebagai bahan siaran tersebut berupa ulasan kritis-apresiatif terhadap karya-karya puisi yang dikirimkan oleh para penyair pemula dari berbagai daerah di Kalsel maupun dari luar daerah (sebagai catatan lagi: sebelum akhir dekade 90-an, sebelum personal computer mewabah di daerah ini, naskah tersebut masih ditulis dalam bentuk tik manual).

Naskah ulasan puisi itu sendiri dibacakan Hijaz Yamani secara bebas (dengan tambahan-tambahan seperlunya secara spontan) dan runtut sesuai dengan urutan puisi yang sebelumnya telah dibacakan oleh sejumlah penyair muda dan deklamator Kalsel yang ikut terlibat mendukung suksesnya siaran radio berdurasi sekitar satu jam ini. Para penyair muda maupun deklamator yang pernah ikut terlibat sebagai pembaca puisi dalam siaran Untaian Mutiara ini antara lain: Ismet M. Muning (asisten pengasuh), Noor Aini Cahya Khairani, Y.S. Agus Suseno, Fajar Gemilang, M. Haderani Thalib, Fani Sastra, Tajuddin Noor Ganie, Edy Wahyudin SP, Rusdi Aryadi Saleh, Abdus Syukur MH, Rina Noor Maulida, dan beberapa nama lagi.

Secara historis, satu hal penting lagi yang perlu kita catat bahwa dari siaran radio ini banyak sekali terlahir penyair pemula yang kemudian berkembang menjadi penyair-penyair andal dan diperhitungkan di jagat sastra nasional. Mereka tidak hanya berasal dari kota Banjarmasin sendiri, melainkan juga dari kampung-kampung nun jauh di pelosok Kalsel, bahkan dari beberapa daerah di luar Kalsel.

Paling tidak, para penyair terkemuka Kalsel generasi 1970-an hingga 1990-an semisal Ajamuddin Tifani, Burhanuddin Soebely, Ahmad Fahrawi, Micky Hidayat, Noor Aini Cahya Khairani, Y.S. Agus Suseno, Maman S. Tawie, Tajuddin Noor Ganie, Tarman Effendi Tarsyad, M. Rifani Djamhari, Ariffin Noor Hasby, Ali Syamsudin Arsi, Jamal T. Suryanata, Edy Wahyudin SP, Rusdi Aryadi Saleh, Lilis MS, dan sederet lagi nama lainnya jelas sangat berhutang ilmu dan bimbingan dari sang pengasuh acara Untaian Mutiara ini. Hingga penghujung dasawarsa 90-an lalu, ketika televisi dan internet dengan segala fasilitasnya itu belum mewabah di banua ini, seminggu sekali pada setiap Senin malam mereka menunggu ulasan-ulasan kritis-apresiatif yang terlontar dari bibir sang penyair seniornya itu. Setiap minggu sekali, entah sendiri di dalam kamar atau bersama beberapa kawan “seiman”-nya, mereka setia menunggu duduk di depan radio tersebab setiap kata-katanya seakan merupakan sabda yang wajib didengar dan dipatuhi.

Lebih dari itu, antusisme para penyair muda itu tampak semakin meningkat sejak akhir 1980-an karena saat itu semua puisi yang masuk dalam siaran Untaian Mutiara ini diseleksi dan ditetapkan sebagai puisi pilihan yang disiarkan pada setiap minggu pertama di awal bulan. Bahkan, semua puisi pilihan awal bulan yang disiarkan di disepanjang tahun 1989 itu kemudian diseleksi lagi oleh tim khusus (terdiri dari Hijaz Yamani dan Ajamuddin Tifani) untuk menetapkan tiga puisi terbaik. Dari hasil seleksi akhir, terpilih sebagai Puisi Terbaik I adalah sebuah sajak bertajuk “Mendengarkan Malam Berzikir” karya Y.S. Agus Suseno, Puisi Terbaik II bertajuk “Episode Cakrawala” karya Noor Aini Cahya Khairani, dan Puisi Terbaik III dengan judul “Isyarat” karya Murjani H.B. Selanjutnya, pada awal tahun berikutnya, ketiga puisi tersebut diterbitkan bersama 31 puisi pilihan lainnya dalam sebuah antologi bernama Mutiara 89 (1990).

Sepanjang dekade 90-an, pemilihan puisi dan penerbitan buku inilah yang kemudian menjadi faktor pemicu bagi para penyair muda Untaian Mutiara untuk terus berkarya dan melahirkan karya-karya puisi terbaik mereka. Namun, sungguh disayangkan, sejak memasuki tahun 2000-an tradisi baru yang sangat positif itu tidak bisa dipertahankan dan dilanjutkan. Bahkan, sejak awal 2002 yang lalu sabda sang penyair senior sekaligus pengasuh siaran Untaian Mutiara itu sudah tak pernah terdengar lagi. Suara lembut itu, ulasan-ulasannya yang kritis-apresiatif itu, telah menghilang bersama menghilangnya sang pengasuh siaran radio mingguan itu kembali ke pangkuan Ilahi. Kini suara lembut kebapakan itu, kritik-kritik dan ulasan-ulasannya yang sangat apresiatif itu, tinggal kenangan di benak para penyair yang pernah merasakan sentuhan motivasi dan bimbingannya. Sepanjang masa hidupnya, dia adalah sang petani yang telaten merawat dan memupuk tunas-tunas muda, dia adalah sang pengayom para penyair pemula, dan dia adalah H.B. Jassin-nya sastra di Kalsel. Dia adalah bapak kita semua.

Sepeninggalnya, sekalipun siaran Untaian Mutiara tersebut sempat berlanjut di bawah asuhan Edy Wahyudin SP dan kawan-kawan, tetapi secara faktual hanya mampu bertahan selama beberapa edisode saja. Dalam kaitan ini, tentu banyak hal yang menjadi faktor penyebabnya, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa kepergian penyair Hijaz Yamani merupakan akar masalahnya. Sebab, tidak semua orang memiliki dedikasi dan totalitas pengabdian sebagaimana sosok Hijaz Yamani dalam merawat dan mempertahankan kelangsungan hidup Untaian Mutiara itu. 

Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan segala kebaikan, dedikasi, totalitas, perjuangan, pengorbanan, dan kontribusinya yang sangat besar dalam mengasah mutiara-mutiara terpendam serta menumbuhkembangkan tradisi penulisan puisi di banua ini, maka dalam kesempatan ini izinkan saya menyematkan kata-kata penuh penghormatan ini kepadanya, “Hijaz Yamani, Bapak Penyair Kalimantan Selatan.”

 

Pelaihari, 5 Mei 2021

No comments: